Top Ads

Sistem Pengapian Konvensional Pada Mobil Jadul

Sistem Pengapian Konvensional


Sistem pengapian konvensional pada mesin bensin berfungsi membakar campuran udara dan bensin (bahan bakar) di ruang bakar pada saat akhir langkah kompresi, sehingga dihasilkan daya mekanik akibat pembakaran tersebut. Sistem pengapian pada kendaraan membutuhkan tenaga listrik, jadi untuk menghasilkan percikan bunga api dibutuhkan tegangan listrik.

Komponen-Komponen Sistem Pengapian

a. Baterai (Aki)

Baterai (Aki) berfungsi untuk memberikan (menyuplai) arus listrik ke sistem pada kendaraan. Baterai atau aki terdapat sel listrik yang di dalamnya berlangsung proses elektrokimia yang bersifat reversibel (dapat berbalikan) dengan efisiensi yang tinggi.


Yang dimaksud dengan proses elektrokimia reversibel, adalah di dalam baterai dapat berlangsung proses perubahan energi kimia menjadi energi listrik (proses pengosongan), dan sebaliknya dari tenaga listrik menjadi energi kimia (proses pengisian). Pengisian kembali terjadi dengan cara regenerasi dari elektroda-elektroda yang dipakai.

b. Sekering (Fuse)

Sekering (Fuse) berfungsi sebagai pengaman jika terjadi kelebihan arus listrik pada suatu rangkaian. Sekering akan terputus bila arus listrik yang melewati sekering melebihi batas arus maksimal yang tertera pada body sekering.


Berikut identifikasi warna dari kapasitas sekering :


c. Kunci Kontak (Ignition Switch)

Kunci kontak (Ignition switch) berfungsi untuk menghubungkan dan memutus arus listrik dari baterai ke rangkaian primer pada sistem pengapian. Pada kunci kontak terdapat beberapa terminal, untuk mobil produk Eropa terdiri dari 30, 15, 50 sedangkan untuk mobil produk Jepang terdiri dari B, IG, ST, ACC.


Fungsi masing-masing terminal :
  • Terminal B / 30 (Baterai) untuk arus/tegangan listrik dari baterai
  • Terminal IG / 15 (Ignition) untuk menghubungkan arus listrik dari baterai ke coil
  • Terminal ST / 50 (Starter) untuk menghubungkan arus listrik dari baterai ke motor starter
  • Terminal ACC (Accesoris) untuk menghubungkan arus listrik dari baterai ke sistem aksesoris mobil

d. Resistor (External / Internal)

Resistor pada Igntion coil ada yang External dan Internal. External Resistor berarti resistor berada di luar Ignition Coil, sedangkan Internal Resistor berarti resistor berada di dalam Ignition Coil. Resistor berfungsi untuk mengurangi penurunan tegangan pada kumparan sekunder pada saat mesin berputar pada putaran tinggi.

e. Ignition Coil

Ignition Coil berfungsi untuk merubah arus listrik bertegangan 12 V yang diterima oleh baterai menjadi arus listrik bertegangan tinggi (10 kV atau lebih). Di dalam coil terdapat 2 kumparan yaitu kumparan primer dan kumparan sekunder.


Ciri-ciri kumparan primer :
  • Menciptakan medan magnet
  • Jumlah lilitannya hanya sedikit (sekitar 500 lilitan)
  • Luas penampangnya besar
Ciri-ciri kumparan sekunder :
  • Merubah induksi magnet menjadi listrik tegangan tinggi
  • Jumlah lilitannya banyak (sekitar 30.000 lilitan)

f. Distributor

Distributor berfungsi untuk membagikan arus tegangan tinggi yang dihasilkan oleh kumparan sekunder pada ignition coil ke busi pada tiap-tiap silinder sesuai dengan urutan pengapian (Firing Order).


Komponen pada distributor :
  • Cam Lobe : untuk membuka paltina (breaker point) pada sudut crankshaft yang tepat untuk masing-masing silinder
  • Breaker Point : untuk memutus hubungan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer dari ignition coil ke masa agar terjadi induksi pada kumparan sekunder coil
  • Kondensor : untuk menyerap loncatan bunga api yang terjadi pada platina (breaker point)
  • Centrifugal Governer Advancer : untuk memajukan saat pengapian sesuai dengan pertambahan putaran mesin
  • Vacuum Advancer : untuk memajukan atau mengundurkan saat pengapian sesuai dengan beban mesin (kevakuman Intake Manifold) yang bisa bertambah atau berkurang
  • Rotor : untuk membagikan arus listrik tegangan tinggi yang dihasilkan oleh ignition coil ke busi
  • Tutup Distributor : untuk membagikan arus listrik tegangan listrik yang telah dibangkitkan di kumparan sekunder dari rotor ke kabel tegangan tinggi

g. Busi (Spark Plug)

Busi (Spark Plug) berfungsi untuk bunga api melalui elektrodanya. Temperatur elektroda busi dapat mencapai kira-kira 2000°C (3632°F) selama langkah pembakaran (langkah kerja), namun suhu tersebut akan turun drastis pada saat langkah hisap karena didinginkan oleh campuran udara dan bahan bakar.


h. Kabel Tegangan Tinggi (High-Tension Cord)

Kabel tegangan tinggi berfungsi untuk mengalirkan arus listrik bertegangan tinggi dari ignition coil ke busi. Kabel tegangan tinggi harus mampu mengalirkan arus listrik bertegangan tinggi yang dihasilkan oleh kumparan sekunder di dalam ignition coil menuju ke busi melalui distributor tanpa adanya kebocoran.

Rangkaian Sistem Pengapian Konvensional dan Cara Kerja

Berikut ini adalah rangkaian sistem pengapian konvensional pada mobil


1. Ketika kunci kontak pada posisi ON


Saat kunci kontak pada posisi ON dan platina (breaker point) masih tertutup, arus mengalir dari baterai melewati fuse dan relay, kemudian masuk ke terminal (+) ignition coil dan melewati kumparan primer. Lalu arus listrik keluar melalui terminal (-) ignition coil dan masuk ke breaker point, kemudian ke masa. Terjadi kemagnetan pada coil sehingga terbentuklah medan magnet pada kumparan primer ignition coil.

2. Ketika platina (breaker point) terbuka


Saat platina membuka, arus yang mengalir melalui platina terputus sehingga terjadi induksi pada kumparan sekunder. Dengan waktu singkat, kumparan sekunder dapat menghasilkan arus listrik bertegangan tinggi. Arus tegangan tinggi pun mengalir dari ignition coil melalui kabel tegangan tinggi menuju ke distributor, lalu distributor membagikan arus tegangan tinggi ke masing-masing busi sesuai dengan urutan pengapian (Firing Order).

Sumber : https://fajardwi26.blogspot.com/2019/11/sistem-pengapian-konvensional-pada-mobil.html

0 Komentar

Posting Komentar

Bottom Ads